Teori Perkembangan Anak dari Stanley Hall_4 Fase Perkembangan Psikologi Anak Menurut Stanley Hall _Granville Stanley Hall adalah seorang psikolog dari Amerika Serikat yang menjadi salah satu perintis kajian ilmiah tentang siklus hidup (life span) yang berteori bahwa perubahan menuju dewasa terjadi dalam sekuens (urutan) yang universal bagian dari proses evolusi, parallel dengan perkembangan psikologis, namun demikian, faktor lingkungan dapat mempengaruhi cepat lambatnya perubahan tersebut. Misalnya, usia enam tahun adalah usia masuk sekolah di lingkungan tertentu, tetapi ada yang memulai sekolah pada usia lebih lambat di lingkungan yang lain. Konsekuensinya, irama perkembangan anak di kedua lingkungan tersebut dapat berbeda. Stanley Hall membagi masa perkembangan anak menjadi empat tahap, yaitu masa kanak-kanak, anak, puber, dan remaja.
Adapun penjelasan mengenai 4 tahap perkembangan anak menurut Stanley Hall, sebagai berkut:
1. Masa kanak-kanak / infancy (umur 0-4 tahun)
Pada usia-usia ini, perkembangan anak disamakan dengan binatang, yaitu melata atau berjalan.
2. Masa anak / childhood (umur 4-8 tahun)
Menurut Stanley Hall, masa ini disebut masa pemburu, anak haus akan pemahaman lingkungannya, sehingga akan berburu kemanapun, mempelajari lingkungan sekitarnya.
3. Masa puber / youth (umur 8-12 tahun)
Pada masa ini anak tumbuh dan berkembang tetapi sebagai makhluk yang belum beradab. Banyak hal yang masih harus dipelajari untuk menjadi makhluk yang beradab di lingkungannya, seperti yang berkaitan dengan sosial, emosi, moral, dan intelektual.
4. Masa remaja / adolescence (umur 12 – dewasa)
Pada masa ini, anak mestinya sudah menjadi manusia beradab yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dunia yang selalu berubah. Perspektif life span seperti yang dipelopori oleh Stanley Hall dkk.
Dapat dibuktikan pada tahap masa remaja sampai dewasa. Misalnya, pada masyarakat tertentu yang masih terbelakang, anak justru cepat menjadi dewasa.
Karena pendidikan hanya tersedia sampai sekolah dasar, masyarakat cenderung mulai bekerja dan berkeluarga dalam usia muda.
Sebaliknya, pada masyarakat yang semua warga negaranya mencapai pendidikan tinggi, anak-anak menjadi dewasa pada usia yang lebih lanjut.
Artikel terkait :
Demikian tentang 4 Tahap Perkembangan Anak dari Stanley Hall. Semoga bermanfaat. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Showing posts with label Pedagogik. Show all posts
Showing posts with label Pedagogik. Show all posts
Thursday, April 12, 2018
Friday, January 5, 2018
Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Beserta Contoh, Tujuan, dan Prinsipnya
Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Beserta Contoh, Tujuan, dan Prinsipnya_Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) mula-mula dikembangkan di sekolah kedokteran, McMaster University Medical School di Hamilton, Canada pada 1960-an (Barrows, 1996). Problem Based Learning dikembangkan sebagai respon atas fakta bahwa mahapeserta didik mengalami kesulitan di tahun pertama perkuliahan, seperti pada mata kuliah Anatomi, Biokimia, dan Fisiologi. Mereka tidak termotivasi menempuh mata kuliah-mata kuliah tersebut karena tidak melihat relevansinya dengan profesi mereka kelak. Selain itu, juga didapati fakta bahwa para dokter muda yang baru lulus dari sekolah kedokteran itu memiliki pengetahuan yang sangat kaya, tetapi kurang memiliki keterampilan memadai untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam praktik sehari-hari. Atas dasar itu, para pengajar merancang pembelajaran yang mendasarkan pada masalah atau kasus aktual. Pembelajaran dimulai dengan penyajian masalah klinis yang dapat diselesaikan dengan menggunakan pengetahuan medis yang relevan. Perkembangan selanjutnya, PBM secara lebih luas diterapkan di berbagai mata kuliah di perguruan tinggi dan di berbagai mata pelajaran di sekolah.
A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.
B. Contoh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Contoh masalah nyata yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah dalam pembelajaran matematika: Dalam keadaan darurat seseorang harus diselamatkan melalui pintu jendela yang tingginya 4m dengan menggunakan tangga. Dengan pertimbangan keselamatan, tangga tersebut harus ditempatkan minimum 1m dari dasar bangunan. Berapa panjang tangga yang mungkin?
C. Tujuan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Tujuan utama Pembelajaran Berbasis Masalah adalah mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membentuk atau memperoleh pengetahuan baru.
D. Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1. Penggunaan masalah nyata (otentik)
2. Berpusat pada peserta didik (student-centered)
3. Guru berperan sebagai fasilitator
4. Kolaborasi antarpeserta didik
5. Sesuai dengan paham konstruktivisme yang menekankan peserta didik untuk secara aktif memperoleh pengetahuannya sendiri.
Demikian tentang Pengertian, Contoh, Tujuan, dan Prinsip Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). Semoga bermanfaat. Sumber https://www.websitependidikan.com/
A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.
B. Contoh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Contoh masalah nyata yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah dalam pembelajaran matematika: Dalam keadaan darurat seseorang harus diselamatkan melalui pintu jendela yang tingginya 4m dengan menggunakan tangga. Dengan pertimbangan keselamatan, tangga tersebut harus ditempatkan minimum 1m dari dasar bangunan. Berapa panjang tangga yang mungkin?
C. Tujuan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Tujuan utama Pembelajaran Berbasis Masalah adalah mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membentuk atau memperoleh pengetahuan baru.
D. Prinsip Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1. Penggunaan masalah nyata (otentik)
2. Berpusat pada peserta didik (student-centered)
3. Guru berperan sebagai fasilitator
4. Kolaborasi antarpeserta didik
5. Sesuai dengan paham konstruktivisme yang menekankan peserta didik untuk secara aktif memperoleh pengetahuannya sendiri.
Demikian tentang Pengertian, Contoh, Tujuan, dan Prinsip Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). Semoga bermanfaat. Sumber https://www.websitependidikan.com/
5 Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific/Saintifik
Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific/Saintifik
Lima (5) Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific/Saintifik:
1. Meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik
2. Membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik,
3. Memperoleh hasil belajar yang tinggi
4. Melatih peserta didik dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis karya ilmiah
5. Mengembangkan karakter peserta didik. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Lima (5) Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific/Saintifik:
1. Meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik
2. Membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik,
3. Memperoleh hasil belajar yang tinggi
4. Melatih peserta didik dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis karya ilmiah
5. Mengembangkan karakter peserta didik. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Monday, November 20, 2017
Pengertian Kecerdasan, IQ, EQ, SQ, dan MQ
Pengertian Kecerdasan dan Macamnya- Di bawah ini beberapa jenis atau macam kecerdasan dan definisinya yang meliputi pengertian kecerdasan, kecerdasan intelektual/IQ, kecerdasan emosional/EQ, kecerdasan spritual/SQ, dan kecerdasan moral/MQ.
1. Pengertian Kecerdasan
Menurut wikipedia, ada beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg & Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif.
2. Pengertian Kecerdasan Intelektual ( IQ )
Kecerdasan intelektual (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
3. Pengertian Kecerdasan Emosional ( EQ )
Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai,mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya.Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasiakan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ).Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
4. Pengertian Kecerdasan Spritual ( SQ )
Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.
SQ merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari SQ ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.
Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.
Sumber https://www.websitependidikan.com/
1. Pengertian Kecerdasan
Menurut wikipedia, ada beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg & Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif.
2. Pengertian Kecerdasan Intelektual ( IQ )
Kecerdasan intelektual (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
3. Pengertian Kecerdasan Emosional ( EQ )
Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai,mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya.Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasiakan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan.Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ).Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
4. Pengertian Kecerdasan Spritual ( SQ )
Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.
SQ merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari SQ ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.
Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.
5. Pengertian Kecerdasan Moral ( MQ )
Kecerdasan moral (bahasa Inggris: moral quotient, disingkat MQ) adalah kemampuan seseorang untuk membedakan benar dan salah berdasarkan keyakinan yang kuat akan etika dan menerapkannya dalam tindakan
Demikian Pengertian Kecerdasan, Kecerdasan Intelektual/IQ, Kecerdasan Emosional/EQ, Kecerdasan Spiritual/SQ, dan Kecerdasan Moral/MQ. Semoga bermanfaat.
Kecerdasan moral (bahasa Inggris: moral quotient, disingkat MQ) adalah kemampuan seseorang untuk membedakan benar dan salah berdasarkan keyakinan yang kuat akan etika dan menerapkannya dalam tindakan
Demikian Pengertian Kecerdasan, Kecerdasan Intelektual/IQ, Kecerdasan Emosional/EQ, Kecerdasan Spiritual/SQ, dan Kecerdasan Moral/MQ. Semoga bermanfaat.
Saturday, September 16, 2017
Pengertian Pedagogik Menurut KBBI, Etimologi, dan Ahli
Pengertian/Definisi Pedagogik- Apa itu pedagogik?. Sahabat Pembaca, jika Anda adalah Pendidik maka pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah "Pedagogik", namun di luar sana mungkin masih ada yang belum mengetahui apa itu pedagogik. Bisa jadi ada yang beranggapan bahwa "Pedagogik" merupakan akronim, sehingga ada juga yang menanyakan pedagogik itu singkatan dari apa?, apa kepanjangan dari pedagogik?, dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya.
Di Wikipedia, pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran. Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru.
1. Pengertian pedagogik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI )
Jika kita mencari arti kata pedagogik di KBBI dengan memasukkan kata "pedagogik", maka di kamus online tersebut tidak ada hasilnya. Kita akan mendapatkan hasil pencarian arti kata pedagogik ketika memasukkan kata "pedagogi", karena kata tersebut memuat pedagogik, pedagogis, dan ortopedagogik. Berikut ini hasil pencarian di KBBI :
a. Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).( https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi )
b.Pedagogik berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogic secara harfiah berari pembantu anak laki-laki pada zaman Yunani kuno, yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan pedagogik adalah seorang ahli, yang membimbing anak ke arah tujuan hidup tertentu.( )
3. Pengertian pedagogik menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda)
Pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kearah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogic adalah ilmu pendidikan anak.
Langeveld (1980), membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak, mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan pada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.
Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, krisis dan objektif, mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakekat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan. Walaupun demikian, masih banyak daerah yang gelap sebagai “terraincegnita” (daerah tak dikenal) dalam lapangan pendidikan, karena masalah hakikat hidup dan hakikat manusia masih banyak diliputi oleh kabut misteri.
http://kbbi.web.id/pedagogi
https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi
Demikian tentang Definisi/Pengertian Pedagogik Menurut KBBI, Etimologi, dan Ahli. Semoga bermanfaat. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Di Wikipedia, pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran. Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru.
1. Pengertian pedagogik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI )
Jika kita mencari arti kata pedagogik di KBBI dengan memasukkan kata "pedagogik", maka di kamus online tersebut tidak ada hasilnya. Kita akan mendapatkan hasil pencarian arti kata pedagogik ketika memasukkan kata "pedagogi", karena kata tersebut memuat pedagogik, pedagogis, dan ortopedagogik. Berikut ini hasil pencarian di KBBI :
- pedagogi = ilmu pendidikan; ilmu pengajaran
- pedagogik = bersifat pedagogi; bersifat mendidik
- ortopedagogik = ilmu mendidik yang bertujuan menyembuhkan kelainan psikis, objek didiknya, terutama yang terbelakang mental
a. Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).( https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi )
b.Pedagogik berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogic secara harfiah berari pembantu anak laki-laki pada zaman Yunani kuno, yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan pedagogik adalah seorang ahli, yang membimbing anak ke arah tujuan hidup tertentu.( )
3. Pengertian pedagogik menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda)
Pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kearah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogic adalah ilmu pendidikan anak.
Langeveld (1980), membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak, mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan pada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.
Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, krisis dan objektif, mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakekat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan. Walaupun demikian, masih banyak daerah yang gelap sebagai “terraincegnita” (daerah tak dikenal) dalam lapangan pendidikan, karena masalah hakikat hidup dan hakikat manusia masih banyak diliputi oleh kabut misteri.
Baca juga: Kumpulan Artikel Tentang PedagogikSumber :
http://kbbi.web.id/pedagogi
https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi
Demikian tentang Definisi/Pengertian Pedagogik Menurut KBBI, Etimologi, dan Ahli. Semoga bermanfaat. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Wednesday, September 13, 2017
Cara Menentukan Kesulitan Belajar Peserta Didik
Cara Menentukan Kesulitan Belajar Peserta Didik atau Siswa SD/SMP/SMA- Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menentukan kesulitan belajar peserta didik, namun hal yang utama yaitu mengidentifikasi gejala-gejala kesulitan belajar yang timbul.
Menurut konsep mastery learning, kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut; Anak dinyatakan gagal belajarnya jika:
1. Dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan oleh guru, peserta didik tidak dapat mencapai ukuran keberhasilan tingkat penguasaan ( mastery level ) minimal dalam pelajaran tertentu. Misalnya KKM mata pelajaran Matematika adalah 72, tetapi anak hanya mendapatkan nilai yang kurang dari 72.
2. Prestasi belajarnya jauh di bawah potensi yang diperkirakan
3. Peserta didik tidak dapat mencapai tugas-tugas perkembangan, yaitu tidak menunjukkan pola tingkah laku yang sesuai dengan usia atau tingkat perkembangan anak SD/SMP/SMA.
4. Peserta didik tidak menguasai pengetahuan prasyarat untuk dapat mempelajari pengetahuan berikutnya.
Empat patokan atau kriteria yang digunakan untuk menyatakan anak SD/SMP/SMA mengalami kesulitan belajar atau tidak meliputi empat kriteria , yaitu:
Menurut konsep mastery learning, kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut; Anak dinyatakan gagal belajarnya jika:
1. Dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan oleh guru, peserta didik tidak dapat mencapai ukuran keberhasilan tingkat penguasaan ( mastery level ) minimal dalam pelajaran tertentu. Misalnya KKM mata pelajaran Matematika adalah 72, tetapi anak hanya mendapatkan nilai yang kurang dari 72.
2. Prestasi belajarnya jauh di bawah potensi yang diperkirakan
3. Peserta didik tidak dapat mencapai tugas-tugas perkembangan, yaitu tidak menunjukkan pola tingkah laku yang sesuai dengan usia atau tingkat perkembangan anak SD/SMP/SMA.
4. Peserta didik tidak menguasai pengetahuan prasyarat untuk dapat mempelajari pengetahuan berikutnya.
Empat patokan atau kriteria yang digunakan untuk menyatakan anak SD/SMP/SMA mengalami kesulitan belajar atau tidak meliputi empat kriteria , yaitu:
- tujuan pendidikan atau pembelajaran yang ditetapkan
- kedudukan anak di dalam kelompoknya
- perbandingan antara potensi dan prestasi
- kepribadian
- nilai hasil belajar di bawah nilai rata-rata kelas atau kelompok
- nilai hasilbelajar tidak sesuai dengan nilai-nilai di kelas sebelumnya
- nilai hasil belajar tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya
- lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajara di kelas
- menunjukkan sikap - sikap yang kurang wajar
- menunjukkan tingkah laku yang berkelainan
- menunjukkan emosional yang kurang wajar, seperti sering marah, pemurung, sedih, dan sebagainya
Saturday, September 9, 2017
Pengertian dan Manfaat Metode Pembelajaran Brainstorming
Metode pembelajaran banyak variasinya untuk menunjang kegiatan belajar mengajar agar lebih berkembang dan efektif. Salah satu metode yang sekarang ini mulai dikembangkan, yaitu metode pembelajaran brainstorming. Metode pembelajaran brainstorming seringkali dilaksanakan dengan cara membuat suatu kelompok diskusi dan mulai menyelesaikan suatu permasalahan yang ada secara bersama-sama. ‘
Pengertian Metode Pembelajaran Brainstorming
Metode pembelajaran brainstorming merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan strategi melakukan suatu diskusi untuk menemukan suatu gagasan, pengetahuan, informasi, pendapat, ataupun pengalaman yang berasal dari peserta didik.
Berbeda dengan diskusi seperti pada umumnya, metode brainstorming memberi keleluasaan kepada masing-masing peserta didik atau kelompok untuk mengutarakan pendapat tanpa adanya tanggapan. Semua pendapat yang masuk ditampung meskipun seaneh apapun, hanya saja diberikan suatu analisa ataupun evaluasi. Sangat dimungkinkan melalui metode pembelajaran yang seperti ini, akan muncul ide-ide yang unik.
Manfaat Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming
Metode pembelajaran brainstorming tentu saja sangat banyak manfaatnya. Lantas, apa saja manfaat yang akan dirasakan ketika menggunakan metode pembelajaran brainstorming ini? Nah, berikut penjabaran terkait manfaat metode pembelajaran bagi peserta didik:
1. Dengan memberikan kesempatan berpendapat kepada masing-masing peserta didik, tentu saja akan membantu mengasah daya berpikir kritis mereka. Berpikir kritis sangat diperlukan peserta didik untuk memasuki jenjang selanjutnya, entah pendidikan dan pekerjaan. Tentunya daya berpikir kritis itu diarahkan agar sesuai dengan ilmunya, jadi tidak asal-asalan berpendapat. Nah, inilah posisi seorang guru yang mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengevaluasi.
2. Membuat peserta didik lebih percaya diri.
Metode pengajaran yang konvensional biasanya lebih mengutamakan daya mendengar dan konsentrasi peserta didik untuk menangkap paparan dari guru. Tapi hal ini membuat peserta didik kurang aktif dan banyak diamnya. Nah, ketika metode brainstorming diterapkan, pastinya sekaligus melatih percaya diri peserta didik untuk berpendapat di forum umum. Hal ini sangat simpel kelihatannya, tapi tanpa disadari sangat berguna bagi peserta didik.
3. Melatih peserta didik agar menghargai pendapat orang lain.
Metode brainstorming memberi kesempatan masing-masing peserta didik untuk mengutarakan pendapat. Peserta didik yang lainnya diharapkan mendengarkan dengan baik dan mencoba menganalisa dan mengevaluasi pendapat temannya. Semua pendapat ditampung, tidak ada yang ditolak. Nah, dengan begitu masing-masing peserta didik akan terbiasa untuk menghargai pendapat orang lain walaupun sebenarnya ada rasa tidak setuju dengan pendapat tersebut.
4. Melatih peserta didik berpikir secara kreatif.
Adanya kebebasan perpendapat dalam forum kelas, pastinya akan mengasah daya kreativitas berpikir untuk menemukan ide baru pada suatu lingkup masalah. Tentu saja keahlian ini sangat berguna bagi bekal peserta didik. Sekarang ini orang memang dituntut untuk berpikir secara kreatif karena permasalahan yang muncul semakin banyak dan komplek.
Itulah penjelasan tentang metode pembelajaran brainstorming. Metode pembelajaran brainstorming merupakan satu di antara ratusan metode mengajar yang bisa dipraktikkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik. Mungkin saja ada beberapa peserta didik akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan metode ini karena belum terbiasa. Guru harus mengarahkannya agar semua peserta didik tanpa terkecuali bisa membiasakan diri untuk mengutarakan pendapat dalam memecahkan suatu masalah.
Sumber https://www.websitependidikan.com/
Pengertian Metode Pembelajaran Brainstorming
Metode pembelajaran brainstorming merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan strategi melakukan suatu diskusi untuk menemukan suatu gagasan, pengetahuan, informasi, pendapat, ataupun pengalaman yang berasal dari peserta didik.
Berbeda dengan diskusi seperti pada umumnya, metode brainstorming memberi keleluasaan kepada masing-masing peserta didik atau kelompok untuk mengutarakan pendapat tanpa adanya tanggapan. Semua pendapat yang masuk ditampung meskipun seaneh apapun, hanya saja diberikan suatu analisa ataupun evaluasi. Sangat dimungkinkan melalui metode pembelajaran yang seperti ini, akan muncul ide-ide yang unik.
Manfaat Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming
Metode pembelajaran brainstorming tentu saja sangat banyak manfaatnya. Lantas, apa saja manfaat yang akan dirasakan ketika menggunakan metode pembelajaran brainstorming ini? Nah, berikut penjabaran terkait manfaat metode pembelajaran bagi peserta didik:
1. Dengan memberikan kesempatan berpendapat kepada masing-masing peserta didik, tentu saja akan membantu mengasah daya berpikir kritis mereka. Berpikir kritis sangat diperlukan peserta didik untuk memasuki jenjang selanjutnya, entah pendidikan dan pekerjaan. Tentunya daya berpikir kritis itu diarahkan agar sesuai dengan ilmunya, jadi tidak asal-asalan berpendapat. Nah, inilah posisi seorang guru yang mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengevaluasi.
2. Membuat peserta didik lebih percaya diri.
Metode pengajaran yang konvensional biasanya lebih mengutamakan daya mendengar dan konsentrasi peserta didik untuk menangkap paparan dari guru. Tapi hal ini membuat peserta didik kurang aktif dan banyak diamnya. Nah, ketika metode brainstorming diterapkan, pastinya sekaligus melatih percaya diri peserta didik untuk berpendapat di forum umum. Hal ini sangat simpel kelihatannya, tapi tanpa disadari sangat berguna bagi peserta didik.
3. Melatih peserta didik agar menghargai pendapat orang lain.
Metode brainstorming memberi kesempatan masing-masing peserta didik untuk mengutarakan pendapat. Peserta didik yang lainnya diharapkan mendengarkan dengan baik dan mencoba menganalisa dan mengevaluasi pendapat temannya. Semua pendapat ditampung, tidak ada yang ditolak. Nah, dengan begitu masing-masing peserta didik akan terbiasa untuk menghargai pendapat orang lain walaupun sebenarnya ada rasa tidak setuju dengan pendapat tersebut.
4. Melatih peserta didik berpikir secara kreatif.
Adanya kebebasan perpendapat dalam forum kelas, pastinya akan mengasah daya kreativitas berpikir untuk menemukan ide baru pada suatu lingkup masalah. Tentu saja keahlian ini sangat berguna bagi bekal peserta didik. Sekarang ini orang memang dituntut untuk berpikir secara kreatif karena permasalahan yang muncul semakin banyak dan komplek.
Itulah penjelasan tentang metode pembelajaran brainstorming. Metode pembelajaran brainstorming merupakan satu di antara ratusan metode mengajar yang bisa dipraktikkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik. Mungkin saja ada beberapa peserta didik akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan metode ini karena belum terbiasa. Guru harus mengarahkannya agar semua peserta didik tanpa terkecuali bisa membiasakan diri untuk mengutarakan pendapat dalam memecahkan suatu masalah.
Teori Belajar Konstruktivisme
Teori Belajar Konstruktivisme_Teori belajar konstruktivisme menjadi salah satu teori pendidikan yang bisa dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Teori ini menonjolkan pola pembelajaran yang lebih generatif. Teori belajar ini bukan sesuatu yang baru, karena merupakan suatu himpunan dan pembinaan dari pengalaman yang telah dilalui. Nah, pengalaman itulah yang nantinya dikembangkan untuk menjadi sebuah pengetahuan, supaya peserta didik lebih dinamis. Dengan begitu peserta didik sudah mempunyai pemahaman yang mumpuni, dan bisa diaplikasikan ketika dihadapkan pada suatu situasi yang serupa.
Secara umum teori belajar konstruktivisme yang bersifat generative, mencoba menciptakan suatu makna dari pengetahuan yang dilihat dari sisi pengalaman yang dialami masing-masing peserta didik. Teori ini lebih banyak menitikberatkan proses dari pembelajaran daripada hasil.
Hasil belajar memang penting untuk melihat kemampuan peserta didik, tapi proses yang banyak memakai strategi dan cara dalam belajar tentunya dinilai lebih penting. Sebagai guru pastinya sudah pengalaman panjangnya proses belajar atau untuk mendalami suatu materi. Untuk itu juga perlu menghargai proses dari peserta didik dalam belajarnya dibandingkan hanya melihat hasilnya saja. Proses belajar itulah yang akan mempengaruhi pola pikir dari peserta didik.
Tujuan Penggunaan Teori Belajar Konstruktivisme
Ada beberapa tujuan yang pastinya bisa dicapai dengan menerapkan teori belajar konstruktivisme ini:
Secara umum teori belajar konstruktivisme yang bersifat generative, mencoba menciptakan suatu makna dari pengetahuan yang dilihat dari sisi pengalaman yang dialami masing-masing peserta didik. Teori ini lebih banyak menitikberatkan proses dari pembelajaran daripada hasil.
Hasil belajar memang penting untuk melihat kemampuan peserta didik, tapi proses yang banyak memakai strategi dan cara dalam belajar tentunya dinilai lebih penting. Sebagai guru pastinya sudah pengalaman panjangnya proses belajar atau untuk mendalami suatu materi. Untuk itu juga perlu menghargai proses dari peserta didik dalam belajarnya dibandingkan hanya melihat hasilnya saja. Proses belajar itulah yang akan mempengaruhi pola pikir dari peserta didik.
Tujuan Penggunaan Teori Belajar Konstruktivisme
Ada beberapa tujuan yang pastinya bisa dicapai dengan menerapkan teori belajar konstruktivisme ini:
- Mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik agar lebih mandiri untuk mencari sebuah gagasan.
- Memberi pemahaman kepada peserta didik tentang proses belajar itu sendiri, sehingga akan lebih jelas belajar itu seperti apa.
- Memberi pemahaman kepada peserta didik tentang suatu pengertian dan konsep dari suatu materi secara lengkap.
- Mengembangkan daya kritis dan kreatif peserta didik melalui pengajuan pertanyaan secara mandiri.
- Memberikan motivasi kepada siswa bahwa belajar itu sebuah kebutuhan dan sudah menjadi tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh peserta didik.
- Pengetahuan dikembangkan oleh peserta didik sendiri
- Pengetahuan tidak akan tersalurkan dari guru ke murid jika tidak ada keaktifan dari peserta didik itu sendiri untuk bertanya.
- Peserta didik dituntut aktif dalam konstruksi proses belajar, sehingga tidak jarang konsep ilmiah akan mengalami perubahan.
- Keberadaan guru hanya sebatas sebagai fasilitator yang akan mengarahkan proses pembelajaran dan memberikan saran supaya berjalan dengan lancar.
- Menghadapi permasalahan relevan yang dihadapi peserta didik
- Membangun peserta didik untuk lebih banyak bertanya agar tercipta daya kritis
- Melakukan penilaian terhadap pendapat siswa
- Menyesuaikan kurikulum yang sedang berlaku untuk memberi tanggapan ataupun proses belajarnya.
Thursday, August 3, 2017
Macam-Macam Metode Belajar
Metode Belajar biasa disebut model pembelajaran atau strategi pembelajaran yang dipahami sebagai sebuah metode atau pendekatan yang dibutuhkan oleh para pendidik/pengajar dalam menyajikan dan menyampaikan materi bagi para peserta didik. Metode belajar berperan agar materi yang disampaikan para pengajar dapat mudah dipahami sehingga tujuan dari kegiatan belajar mengajar dapat tercapai.
Sebagai salah satu aspek penentu keberhasilan peserta didik dalam proses belajar, metode belajar dilakukan melalui proses transfer ilmu pengetahuan yang efektif dari pengajar kepada peserta didik.
Macam-Macam Metode Belajar Efektif
Nah, berikut ini kami sajikan macam-macam metode belajar efektif yang akan membantu para peserta didik agar mudah memahami materi yang sampaikanoleh pendidik.
1. Metode Belajar Jigsaw
Metode belajar Jigsaw hampir menyerupai pola atau cara kerja sebuah gergaji. Dipahami sebagai sebuah metode pembelajaran berkelompok, metode belajar Jigsaw mendesain setiap peserta didik untuk dalam sebuah kelompok dan bertanggung jawab untuk menguasai sebuah materi untuk diajarkan kepada anggota kelompoknya hingga seluruh anggota dapat memahami materi tersebut.
Metode ini berkembang di Universitas Texas, Amerika Serikat. Perintis metode ini ialah Ellior Arronson seorang ilmuwan pendidikan dari Amerika Serikat. Metode ini terbukti efektif jika diterapkan pada 1 bagian materi yang mempunyai sub bagian dengan pola penyampaian yang tidak berurutan.
2. Metode Belajar Role Playing
Metode Belajar Role Playing adalah sebuah strategi pembelajaran dengan memanfaatkan penghayatan siswa dan imajinasi mereka dalam memerankan tokoh berdasarkan skenario yang telah disusun sesuai dengan materi pelajaran yang sedang mereka pelajari. Metode ini sangat efektif digunakan khususnya pada materi pelajaran yang membutuhkan dramatisasi. Dengan metode ini, penyampaian materi akan lebih mudah dimahami para siswa.
3. Metode Belajar Talking Stick
Metode Belajar Talking Stick merupakan sebuah metode yang menggunakan media pembelajaran tongkat. Setiap siswa yang memegang tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh pengajar. Biasanya para siswa akan diberi kesempatan untuk mempelajari materi terlebih dahulu sebelum memulai metode belajar ini. Metode ini berperan dalam upaya melatih siswa berbicara sehingga semua siswa memiliki ketrampilan berbicara dan mengungkapkan gagasan dengan baik.
4. Metode Belajar Cooperative Learning (CL)
Metode ini akan mendorong setiap siswa untuk terlibat aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dalam penerapan metode belajar Cooperative Learning (CL), pengajar akan membagi siswa dalam kelompok kecil. Dalam kecil tersebut setiap siswa akan didorong untuk terlibat aktif saling berbagi, membantu dengan saling bertukar pendapat dan belajar bersama untuk bertanggungjawab akan tugas yang diberikan.
Bagian terpenting dalam metode belajar ini adalah bagaimana proses kegiatan belajar dalam kelompok kecil tersebut dapat tercipta dengan kondisi dimana setiap siswa saling bekerja sama untuk belajar memahami materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
5. Metode Belajar Problem Based Learning
Metode Belajar Problem Based Learning adalah metode yang menyajikan sebuah kasus atau masalah sebagai pendorong proses belajar. Pada metode belajar jenis ini, siswa akan menghadapi sebuah kasus lalu mereka didorong untuk berupaya menciptakan pola pikir kritis agar mampu menggali dan menyelesaikan masalah dari kasus tersebut. Sistem pembelajaran mahasiswa jurusan kedokteran sering menggunakan metode ini.
6. Metode Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL)
Metode Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah metode belajar yang diawali dengan upaya pengajar membuat suasana belajar menjadi menyenangkan sehingga para siswa menjadi tertarik akan materi yang diajarkan. Metode belajar ini menonjolkan keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan penerapan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari para siswa.
Pendidik dapat melakukan tanya jawab ringan tentang ketertarikan materi yang diajarkan dengan penerapan dalam kehidupan para siswa sehari-hari. Cara ini dilakukan agar siswa menjadi tertarik akan materi yang diajarkan sehingga proses belajar yang efektif akan tercapai. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Sebagai salah satu aspek penentu keberhasilan peserta didik dalam proses belajar, metode belajar dilakukan melalui proses transfer ilmu pengetahuan yang efektif dari pengajar kepada peserta didik.
Macam-Macam Metode Belajar Efektif
Nah, berikut ini kami sajikan macam-macam metode belajar efektif yang akan membantu para peserta didik agar mudah memahami materi yang sampaikanoleh pendidik.
1. Metode Belajar Jigsaw
Metode belajar Jigsaw hampir menyerupai pola atau cara kerja sebuah gergaji. Dipahami sebagai sebuah metode pembelajaran berkelompok, metode belajar Jigsaw mendesain setiap peserta didik untuk dalam sebuah kelompok dan bertanggung jawab untuk menguasai sebuah materi untuk diajarkan kepada anggota kelompoknya hingga seluruh anggota dapat memahami materi tersebut.
Metode ini berkembang di Universitas Texas, Amerika Serikat. Perintis metode ini ialah Ellior Arronson seorang ilmuwan pendidikan dari Amerika Serikat. Metode ini terbukti efektif jika diterapkan pada 1 bagian materi yang mempunyai sub bagian dengan pola penyampaian yang tidak berurutan.
2. Metode Belajar Role Playing
Metode Belajar Role Playing adalah sebuah strategi pembelajaran dengan memanfaatkan penghayatan siswa dan imajinasi mereka dalam memerankan tokoh berdasarkan skenario yang telah disusun sesuai dengan materi pelajaran yang sedang mereka pelajari. Metode ini sangat efektif digunakan khususnya pada materi pelajaran yang membutuhkan dramatisasi. Dengan metode ini, penyampaian materi akan lebih mudah dimahami para siswa.
3. Metode Belajar Talking Stick
Metode Belajar Talking Stick merupakan sebuah metode yang menggunakan media pembelajaran tongkat. Setiap siswa yang memegang tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh pengajar. Biasanya para siswa akan diberi kesempatan untuk mempelajari materi terlebih dahulu sebelum memulai metode belajar ini. Metode ini berperan dalam upaya melatih siswa berbicara sehingga semua siswa memiliki ketrampilan berbicara dan mengungkapkan gagasan dengan baik.
4. Metode Belajar Cooperative Learning (CL)
Metode ini akan mendorong setiap siswa untuk terlibat aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dalam penerapan metode belajar Cooperative Learning (CL), pengajar akan membagi siswa dalam kelompok kecil. Dalam kecil tersebut setiap siswa akan didorong untuk terlibat aktif saling berbagi, membantu dengan saling bertukar pendapat dan belajar bersama untuk bertanggungjawab akan tugas yang diberikan.
Bagian terpenting dalam metode belajar ini adalah bagaimana proses kegiatan belajar dalam kelompok kecil tersebut dapat tercipta dengan kondisi dimana setiap siswa saling bekerja sama untuk belajar memahami materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
5. Metode Belajar Problem Based Learning
Metode Belajar Problem Based Learning adalah metode yang menyajikan sebuah kasus atau masalah sebagai pendorong proses belajar. Pada metode belajar jenis ini, siswa akan menghadapi sebuah kasus lalu mereka didorong untuk berupaya menciptakan pola pikir kritis agar mampu menggali dan menyelesaikan masalah dari kasus tersebut. Sistem pembelajaran mahasiswa jurusan kedokteran sering menggunakan metode ini.
6. Metode Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL)
Metode Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah metode belajar yang diawali dengan upaya pengajar membuat suasana belajar menjadi menyenangkan sehingga para siswa menjadi tertarik akan materi yang diajarkan. Metode belajar ini menonjolkan keterkaitan antara materi yang diajarkan dengan penerapan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari para siswa.
Pendidik dapat melakukan tanya jawab ringan tentang ketertarikan materi yang diajarkan dengan penerapan dalam kehidupan para siswa sehari-hari. Cara ini dilakukan agar siswa menjadi tertarik akan materi yang diajarkan sehingga proses belajar yang efektif akan tercapai. Sumber https://www.websitependidikan.com/
Wednesday, August 2, 2017
Strategi Pembelajaran Membaca
Membaca merupakan salah satu cara untuk memperoleh informasi dari sesuatu yang tertulis. Melibatkan beberapa simbol yang menyusun struktur bahasa, kegiatan membaca biasanya dilakukan dari kertas. Membaca dapat dilakukan secara individu maupun dengan dibaca keras-keras. Dalam melakukan kegiatan membaca kita membutuhkan keseimbangan baik dari gerakam mata maupun fokus dan pemantapan pemikiran serta ketrampilan dalam menerima dan menelaah informasi tersebut.
Agar dapat menerima dan mengingat informasi secara tepat, diperlukan kesembangan yang akurat. Konsentrasi diperlukan dalam kegiatan membaca sehingga proses penyimpanan informasi dalam pikiran dalam berjalan secara maksimal. Semakin kita sering melakukan kegiatan membaca semakin baik pula ketrampilan kita dalam membaca.
Menurut Sipay dan Hariss (1980;8) membaca merupakan sebuah kegiatan yang berupaya memberikan respon secara tepat akan lambang verbal yang tertulis atau tercetak. Makna atau pemahaman dalam membaca muncul dari interaksi antara persepsi dengan simbol grafis dan ketrampilan struktur bahasa serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Dalam proses interaksi tersebut, pembaca berupaya menciptakan kembali makna seperti halnya makna yang ingin diungkapkan penulis lewat tulisannya.
Strategi Pembelajaran Membaca pada Jenjang SD
Dalam dunia pendidikan dasar, terdapat strategi pembelajaran membaca yang dikategorikan dalam 6 kelompok metode pembelajaran.
1. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Eja
Metode Eja dipahami sebagai sebuah metode pembelajaran membaca dengan memperkenalkan huruf-huruf alfabetis. Huruf-huruf tersebut dilafalkan dan dihafalkan beradasarkan bunyinya sesuai abjad. Misalnya: A, B,C, D, E, F, G, H, I dan seterusnya dilafalkan menjadi (a), (be), (ce), (de), (e), (ef) .
Setelah melewati tahapan ini, para siswa lalu diajak untuk mengenal suku kata dengan teknik merangkai beberapa huruf yang sudah mereka kenal.
Misalnya: b, a, k, u menjadi b , a – ba ( jika dieja / be-a/ - {ba}
k, u - du (jika dieja / de-u/ - {du}
2. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Bunyi
Strategi pembelajaran membaca pada metode bunyi dunia pendidikan dasar hampis menyerupai metode eja, perbedaannya pada sistem pelafalan huruf atau abjad. Misalnya:
Huruf b – dilafalkan menjadi (eb)
e – dilafalkan menjadi (e)
g – dilafalkan menjadi (eg)
Oleh karena itu kata “ riba” dieja:
/er- i/ (ri)
/eb-a/ (ba)
Metode bunyi sebenarnya adalah bagian dari metode eja. Proses pembelajaran dan prinsip dasarnya tidak berbeda jauh dengan metode eja. Perbedaannya hanya terletak pada pelafalan abjad atau pembacaan huruf-hurufnya.
3. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Suku Kata
Strategi pembelajaran membaca dengan metode suku kata diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba, be, bi, bo, bu, ca, ci, cu, ce, co, ka, ke, ki, ko, ku dan seterusnya. Beberapa suku kata tersebut lalu dirangkai menjadi rangkaian kata yang memiliki makna. Selanjutnya rangkaian kata dapat disusun menjadi kalimat sederhaan. Berikut ini contohnya: cu-ci ka-ki
bi-bi cu-ci
da-da ka-ki
4. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Kata
Strategi pembelajaran membaca dengan metode kata diawali dengan tahap pengenalan huruf dan suku kata. Kata diuraikan menjadi rangkaian suku kata lalu suku kata menjadi huruf-huruf. Selanjutnya, hurung dirangkai menjadi rangkaian suku kata dan suku kata dirangkai menjadi rangkaian kata.
5. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Global
Metode global bermakna strategi pembelajaran dilaksanakan secara bulat dan utuh. Pertama kali yang disajikan pada siswa adalah rangkaian kalimat utuhnya dalam metode ini. Kalimat tersebut lalu ditulis di posisi bawah gambar sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah melalui proses berkali-kali membaca, para siswa akan mampu membaca kalimat –kalimat tersebut secara global tanpa gambar. Misalnya: ini sapu
i-ni sa-pu
i-n-i s-a-p-u
6. Strategi Pembelajaran Membaca Metode SAS
Dalam metode ini, pembelajaran diawali dengan dua tahap yaitu menyajikan dan memperkenalkan sebuah rangkaian kalimat utuh. Awalnya, para siswa disajikan sebuah struktur kalimat dengan makna lengkap lalu pembelajaran dilanjutkan dengan tahapan:
a. Kalimat menjadi rangkaian kata-kata
b. Kata menjadi suku-suku kata
c. Suku kata dikelompokkan menjadi huruf-huruf Sumber https://www.websitependidikan.com/
Agar dapat menerima dan mengingat informasi secara tepat, diperlukan kesembangan yang akurat. Konsentrasi diperlukan dalam kegiatan membaca sehingga proses penyimpanan informasi dalam pikiran dalam berjalan secara maksimal. Semakin kita sering melakukan kegiatan membaca semakin baik pula ketrampilan kita dalam membaca.
Menurut Sipay dan Hariss (1980;8) membaca merupakan sebuah kegiatan yang berupaya memberikan respon secara tepat akan lambang verbal yang tertulis atau tercetak. Makna atau pemahaman dalam membaca muncul dari interaksi antara persepsi dengan simbol grafis dan ketrampilan struktur bahasa serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Dalam proses interaksi tersebut, pembaca berupaya menciptakan kembali makna seperti halnya makna yang ingin diungkapkan penulis lewat tulisannya.
Strategi Pembelajaran Membaca pada Jenjang SD
Dalam dunia pendidikan dasar, terdapat strategi pembelajaran membaca yang dikategorikan dalam 6 kelompok metode pembelajaran.
1. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Eja
Metode Eja dipahami sebagai sebuah metode pembelajaran membaca dengan memperkenalkan huruf-huruf alfabetis. Huruf-huruf tersebut dilafalkan dan dihafalkan beradasarkan bunyinya sesuai abjad. Misalnya: A, B,C, D, E, F, G, H, I dan seterusnya dilafalkan menjadi (a), (be), (ce), (de), (e), (ef) .
Setelah melewati tahapan ini, para siswa lalu diajak untuk mengenal suku kata dengan teknik merangkai beberapa huruf yang sudah mereka kenal.
Misalnya: b, a, k, u menjadi b , a – ba ( jika dieja / be-a/ - {ba}
k, u - du (jika dieja / de-u/ - {du}
2. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Bunyi
Strategi pembelajaran membaca pada metode bunyi dunia pendidikan dasar hampis menyerupai metode eja, perbedaannya pada sistem pelafalan huruf atau abjad. Misalnya:
Huruf b – dilafalkan menjadi (eb)
e – dilafalkan menjadi (e)
g – dilafalkan menjadi (eg)
Oleh karena itu kata “ riba” dieja:
/er- i/ (ri)
/eb-a/ (ba)
Metode bunyi sebenarnya adalah bagian dari metode eja. Proses pembelajaran dan prinsip dasarnya tidak berbeda jauh dengan metode eja. Perbedaannya hanya terletak pada pelafalan abjad atau pembacaan huruf-hurufnya.
3. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Suku Kata
Strategi pembelajaran membaca dengan metode suku kata diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba, be, bi, bo, bu, ca, ci, cu, ce, co, ka, ke, ki, ko, ku dan seterusnya. Beberapa suku kata tersebut lalu dirangkai menjadi rangkaian kata yang memiliki makna. Selanjutnya rangkaian kata dapat disusun menjadi kalimat sederhaan. Berikut ini contohnya: cu-ci ka-ki
bi-bi cu-ci
da-da ka-ki
4. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Kata
Strategi pembelajaran membaca dengan metode kata diawali dengan tahap pengenalan huruf dan suku kata. Kata diuraikan menjadi rangkaian suku kata lalu suku kata menjadi huruf-huruf. Selanjutnya, hurung dirangkai menjadi rangkaian suku kata dan suku kata dirangkai menjadi rangkaian kata.
5. Strategi Pembelajaran Membaca Metode Global
Metode global bermakna strategi pembelajaran dilaksanakan secara bulat dan utuh. Pertama kali yang disajikan pada siswa adalah rangkaian kalimat utuhnya dalam metode ini. Kalimat tersebut lalu ditulis di posisi bawah gambar sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah melalui proses berkali-kali membaca, para siswa akan mampu membaca kalimat –kalimat tersebut secara global tanpa gambar. Misalnya: ini sapu
i-ni sa-pu
i-n-i s-a-p-u
6. Strategi Pembelajaran Membaca Metode SAS
Dalam metode ini, pembelajaran diawali dengan dua tahap yaitu menyajikan dan memperkenalkan sebuah rangkaian kalimat utuh. Awalnya, para siswa disajikan sebuah struktur kalimat dengan makna lengkap lalu pembelajaran dilanjutkan dengan tahapan:
a. Kalimat menjadi rangkaian kata-kata
b. Kata menjadi suku-suku kata
c. Suku kata dikelompokkan menjadi huruf-huruf Sumber https://www.websitependidikan.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)







