Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

Wednesday, May 2, 2018

Kisah Suami Istri Sangat Menyentuh Hati yang Diabadikan dalam Al-Qur'an

Blog Khusus Doa - Pada kesempatan ini kami akan berbagi kisah suami istri yang sangat menyentuh hati. Tidak hanya menyentuh hati saja, tetapi kisah islami suami istri ini juga diabadikan dalam Al-Qur'an. Sungguh satu kisah nyata yang sangat menyentuh hati dan jiwa bagi siapa saja yang membacanya dan tentunya patut untuk kita teladani dari kisah suami istri berikut ini.

Seperti dilansir dari laman republika.co.id (15/11/2017), ada sebuah kisah suami istri yang sangat menyentuh jiwa dan sangat sulit dipercaya bagi banyak orang yang menjadi korban materialisme hingga mendominasi seluruh dimensi kehidupannya. Kisah ini disinggung dalam surah Al-Insan. Para musafir umumnya sepakat bahwa ayat-ayat tersebut turun berkaitan dengan Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah az-Zhara.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ الأبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (٥)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (٦)يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (٧)وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (٨)إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا (٩)إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (١٠)
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman ) yang campurannya adalah air kafur yaitu mata air (dalam surga ) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan(azab ) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insaan : 5-10)

Dikisahkan dari Ensiklopedia Alquran, bahwa saat masih kecil, Al-Hasan dan Al-Husain, kedua putra Imam Ali bin Abi Thalib jatuh sakit. Tatkala penyakit keduanya semakin parah, Imam Ali dan Sayyidah Fathimah bernazar; apabila kedua putranya sembuh, mereka akan berpuasa selama tiga hari.

Meskipun memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, pasangan suami istri ini, hidup serba kekurangan. Suatu hari, Imam Ali mendatangi rumah seorang Yahudi untuk meminjam tiga sha’ gandum. Orang Yahudi itu berkata, “Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan dengan syarat kamu memintal wol ini.”

Imam Ali yang kebetulan pandai memintal wol, menerima syarat itu. Lalu beliau membawa gandum tersebut dan memberikannya kepada Sayyidah Fathimah. Kemudian Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang memberikan kesembuhan kepada kedua putranya. Imam Ali dan Sayyidah Fathimah pun akhirnya menepati nazarnya berpuasa selama tiga hari.

Pada hari pertama, Sayyidah Fathimah menggiling satu sha’ gandum untuk membuat roti. Sembari menunggu saat berbuka, mereka meletakkan beberapa potong roti beserta garam dan cuka di hadapannya. Saat terdengar suara Bilal bin Rabah mengumandangkan azan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk seseorang. Imam Ali membukanya dan menjumpai seorang lelaki renta miskin meminta sedekah.

Lelaki itu berkata, “Aku dan istriku sangat kelaparan dan kesakitan”. Mendengar perkataan lelaki renta miskin itu, Sayyidah Fathimah merasa iba sehingga tanpa terasa kedua matanya meneteskan air mata. Suami istri itu segera memberikan roti mereka kepada lelaki renta tersebut. Ia berterima kasih dan mendoakan mereka berdua.

Mereka melakukan semua itu bukan untuk mengharap ucapan terima kasih, namun semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Maka, pada hari itu mereka berbuka hanya dengan air putih. Setelah berbuka, mereka menunaikan shalat Maghrib dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.

Pada hari berikutnya, mereka menggiling satu sha’ gandum dan mengolahnya menjadi roti. Menjelang Maghrib, seorang anak yatim datang ke rumah mereka meminta makanan untuknya dan saudara-saudaranya yang masih kecil. Imam Ali dan Sayyidah Fathimah pun memberikan makanan yang ada. Pada hari kedua ini, mereka kembali berbuka hanya dengan air putih.

Untuk melengkapi nazarnya, mereka berpuasa pada hari ketiga. Tiba-tiba seorang tawanan mengetuk pintu rumahnya meminta sedekah. Mereka pun melakukan hal yang sama dengan dua hari sebelumnya. Tentu saja, mereka menjadi lemah karena sangat lapar.

Pada hari keempat, mereka berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Melihat kondisi mereka (Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain) sangat lemah, Nabi SAW menangis. Saat itulah Malaikat Jibril menurunkan surah Al-Insan.

Meskipun diturunkan berkenaan dengan Imam Ali dan Sayyidah Fathimah, ayat-ayat tersebut ditujukan kepada semua kaum beriman supaya meneladani mereka. Sifat tamak terhadap materi duniawi adalah penyakit setan. Semoga Allah SWT melindungi kaum beriman dari setan, sesungghnya Dia Maha Mendengar lagi Mengabulkan.

Itulah kisah suami istri yang sangat menyentuh hati dan jiwa kita semua. Semoga bermanfaat.
Sumber https://www.blogkhususdoa.com/

Monday, October 2, 2017

Kisah Wanita Mustajab, Doanya Langsung Didengar Allah dan Para Malaikat Hingga Langit Ketujuh

Blog Khusus Doa - Berdoa kepada Allah SWT merupakan salah satu cara terbaik untuk kita mendekatkan diri kepada Sang Kholik, serta jalan kita memohon kepada Allah agar hajat kita terkabulkan. Tentu kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT segera terkabul, tapi ternyata tidak semua doa-doa hambaNya langsung dikabulkan oleh Allah SWT.

Lain halnya dengan wanita yang luar biasa berikut ini, doa beliau seketika didengar Allah SWT dan para Malaikat. Kisah tentang kemulian seorang wanita pernah dikisahkan semasa hidup Nabi Muhammad SAW. Salah seorang wanita dengan tingkat keimanan tinggi datang menemui Nabi. Ia menghadapi suatu kondisi yang mengharuskannya mendapatkan pencerahan.

Namun ternyata, kala itu Nabi belum bisa menjawab karena belum ada wahyu yang diturunkan Allah terkait hal tersebut. Namun, ini tak lantas membuat si wanita menyerah. Ia berdoa dan memohon kepada Allah agar memberi jalan keluar atas permasalahan hidupnya.

Ternyata doa ini langsung diijabah Allah. Seketika Nabi menerima wahyu Surat Al-Mujadalah sehingga bisa menjawab permasalahan wanita tersebut. Siapa dia sebenarnya? Mengapa doanya dapat menembus langit ke tujuh dengan demikian cepat?

Nama lengkap wanita ini adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Farah bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Ia merupakan istri dari Aus bin Shamit bin Qais dan dari pernikahan mereka lahir seorang putra yang diberi nama Rabi’.

Kisah saat doanya yang mampu menembus langit ini bermula ketika terjadi permasalahan antara dirinya dan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami kemudian mengeluarkan kalimat yang membuatnya merasa cemas dan perlu memperjelasnya kepada Nabi.

Kalimat yang dilontarkan suaminya tersebut adalah “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku”. Meski setelah itu suaminya berlalu pergi bersama sahabat-sahabatnya, namun tidak serta merta membuat Khaulah melupakan perkataan tersebut begitu saja.

Baginya perkataan tersebut seperti talak dari sang suami kepada dirinya. Sepulangnya dari berkumpul dari sahabatnya, sang suami kemudian menginginkan hubungan suami istri dengan Khaulah.

Namun, Khaulah menolak karena perasaannya yang begitu tidak bisa menerima atas ucapan Aus sang suami. Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Setelah peristiwa tersebut, Khaulah kemudian menemui Rasulullah SAW. Ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang Nabi. Ia berharap Nabi memberikan pencerahan terhadap apa yang sudah dialami. Namun, Ia harus kecewa, pasalnya pada masa itu, belum ada kejadian yang dihadapi umat dan baru Khaulah yang mengalaminya. Sehingga belum turun firman Allah yang menjelaskan tentang hal ini.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut … aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Ini artinya, hubungan mereka sudah tidak diperbolehkan lagi. Namun, hati kecil Khaulah pun masih bergejolak, mengingat jika Ia berpisah dengan sang suami, maka akan sulit baginya menghidupi diri dan anaknya Rabi’. Namun Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya.”

Setelah peristiwa ini, wanita tersebut terus berdoa memohon kepada Allah agar memberi petunjuk terkait permasalahannya. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan menyesal. Tiada henti-hentinya Ia berdoa ini berdo’a yang kemudian dikabulkan Allah.

“Yaa Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku.”.

Ternyata doa ini dihijabah Allah. Rasulullah SAW seketika pingsan seperti biasa saat menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang dirimu dan suamimu, kemudian beliau membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya:
Orang-orang yang menzhihar (menganggap isterinya sebagai ibunya, atau menyamakan istrinya dengan ibunya sebagaimana ucapan Aus di alinea kedua di atas, Red) isterinya di antara kamu padahal tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah : 1-4)

Setelah turun ayat ini, barulah Rasulullah SAW bisa menjelaskan perihal permasalahan yang dihadapi Khaulah. Baginda Rasulullah SAW kemudian menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak!”

Khaulah: “Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.”

Nabi SAW: “Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”

Khaulah: “Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.”

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”

Khaulah: “Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.”

Nabi SAW: “Aku bantu dengan separuhnya.”

Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.”

Nabi SAW: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.”

Itulah Kisah Khaulah Bin Tsa'labah, Wanita Mustajabah Doanya Langsung Didengar Allah dan Para Malaikat Hingga Langit Ketujuh. Semoga kisah ini mampu menambah keimanan dan ketaqwaan kita dalam beribadah. Amin. Wanita diciptakan dengan ribuan kemuliaan. Saking mulianya, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mendahulukan wanita daripada yang lain. Bahkan, pernah disebutkan jika doa kaum wanita bisa terdengar hingga lapis langit ke-7.
Sumber https://www.blogkhususdoa.com/