Showing posts with label Cara Mendidik Anak. Show all posts
Showing posts with label Cara Mendidik Anak. Show all posts

Friday, April 13, 2018

Cara Mendidik Anak Zaman Sekarang/Now di Era Digital

Tips/Cara Mendidik Anak Zaman Now di Era Digital_Perlu diketahui, istilah anak zaman now atau yang populer dengan sebutan generasi milenial adalah kelompok manusia yang lahir antara tahun 1977- 1995 (Generasi milenial) dan 1996-2010 (Generasi Z). Mereka disebut generasi milenial karena telah melewati generasi milenium kedua sejak pertama kali teori ini dikemukakan oleh Karl Mannheim pada 1923. Singkatnya generasi milenial atau yang akrab disebut anak zaman now adalah mereka yang lahir saat munculnya internet dan teknologi sudah mulai berkembang.

Hal tersebut tentu mempengaruhi pola dan pemikiran mereka, untuk itu para orang tua harus siap dengan kondisi ini, perubahan dan cara mendidik pun juga harus berkembang dan menyesuaikan kondisi zaman. Namun tentunya tanpa mengabaikan pendidikan moral dan etika.

Tips  Mendidik Anak Zaman Sekarang/Now di Era Digital
Cara Mendidik Anak Zaman Now di Era Digital Cara Mendidik Anak Zaman Sekarang/Now di Era Digital
Dalam hal ini ada 2 sikap yang harus diperhatikan oleh orangtua dalam mendidik anak zaman now yang ideal. Nah, selengkapnya silahkan dibaca ulasan berikut ini:

1. Sikap yang Seharusnya Dimiliki Orang Tua 
  • Hiduplah seimbang artinya ada sinergi yang seimbang antara peran pengasuhan dari ibu dan ayah 
  • Jadilah contoh atau role model yang baik dan seimbang untuk anak, baik dalam hal pekerjaan, keluarga, penggunaan teknologi dan non teknologi
  • Selalu berusaha untuk menyeimbangkan jenis aktivitas bersama dengan keluarga 
  • Jadilah orang tua yang hangat artinya jauhi pola didik yang berunsur kekerasan baik fisik, emosional, verbal, seksual, dan pengabaian. 
  • Berikan kasih sayang dalam bentuk fisik seperti belaian, peluk, cium, tepukan ringan pada punggung dan sentuhan lembut di kepala, dan lain-lain. 
  • Menjalin komunikasi yang positif agar anak merasa dihargai, dipahami dan diperlakukan adil seperti berkata jujur namun tetap asertif, perhatikan volume, intonasi, dan ekspresi wajah. 
  • Hindari memberi penilaian namun gantilah dengan observasi perilaku, tidak membandingkan, tidak memerintah tanpa alasan, tidak memberi nasihat yang sifatnya menggurui, dan memberikan teguran atas kesalahan namun tetap menekankan proses belajar dan solusi 
  • Jadilah orang tua yang ahli terhadap sikap anak Anda, paham kebiasaan, sifat, dan kemampuannya 
  • Memahami ajaran agama, kemudian mengajarkan dan menerapkannya dalam keseharian
  • Ahli mengasuh anak, artinya anda terus berusaha untuk belajar mengasuh anak dengan pola dan cara yang tepat sesuai jamannya 
  • Anda juga harus ahli dalam hal teknologi terutama teknologi yang biasa digunakan oleh kebanyakan anak diusianya 
  • Jadilah orang tuayang playful atau ceria dengan cara mencari tahu hobi, minat, topik, dan aktivitas kesukaannya, kemudian aktiflah untuk mencari tahu/browsing menyangkut hal tersebut, dan bersama-sama melakukannya bersama anak anda, jadilah teman yang asik dan saling menghargai. 
2. Sikap yang Seharusnya Diajarkan pada sang Anak  
  • Mengajarkan dan menanamkan nilai positif dengan berusaha mengembangkan cara berpikir kritis dan penanaman prinsip agar anak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Hal tersebut bisa dilakukan dengan sering mengajak anak untuk diskusi baik hal positif atau negatif beserta alasan dan bukti dari kasus nyata yang terjadi sehari-hari. 
  • Berilah kesempatan kepada pada anak untuk beropini dan hargailah setiap pendapatnya, lalu latihlah anak dalam mengambil keputusan sesuai usianya serta ajarkan untuk terbuka terhadap kritik
  • Mengembangakan rasa tanggung jawab kepada anak dengan memberikan pengertian untuk selalu memikirkan suatu tindakan sebelum mengambil keputusan dan menjelaskan konsekuensi yang harus diterima. Misalnya, memberi tugas rumah sesuai kemampuan dan usia anak secara mandiri, tidak mengambil alih tugas yang telah diberikan dan tidak memberikan penghakiman atas kesalahan yang dibuat namun memberi pengertian bahwa kesalahan dapat dijadikan sebagai media belajar serta mau mengakui jika orang tua melakukan kesalahan 
  • Menerapkan nilai-nilai dasar seperti moral dan etika lewat penerapan nilai-nilai agama secara rutin 
  • Menunjang dan mendukung anak dalam mengekplorasi diri untuk mengeksplorasi minat dan bakat dalam kegiatan non gadget
  • Membuat kesepakatan bersama dalam hal penggunaan gadget dengan cara mendiskusikan lebih dulu mengapa harus ada sebuah kesepakatan, apa harapan yang ingin didapat, buat aturan yang jelas seperti apa yang boleh dan tidak, berapa lama durasi penggunaan gadget .
  • Buatlah dengan konkrit dan tertulis berserta konsekuensi pelanggaran. Pastikan bahwa anak paham, dan lakukan review atas aturan tersebut secara berkala dan buatlah apresiasi 
  • Menanamkan nilai yang dapat diatur dalam kesepakatan misalnya meletakkan komputer atau penggunaan handphone orangtua oleh anak yang hanya bisa dilakukan di ruang keluarga, dan membuat aturan pada screen time yakni 2 jam termasuk menonton televisi. 
  • Ajarkan anak untuk mampu menghargai diri sendiri, orang lain, dan menjaga area pribadi
  • Ajari pula bagaimana membedakan orang asing (tidak dikenal), teman, dan saudara dan data pribadi apa saja yang boleh dan tidak untuk diberikan pada orang lain
  • Jelaskan apa dampak aplikasi tertentu yang memiliki potensi negatif bagi anak dengan bahasa yang mudah dan bisa dipahami anak, dengan memberi contoh-contoh yang konkrit 
  • Anda juga bisa membuat list website apa saja yang boleh dan tidak boleh diakses oleh anak 
  • Jika diperlukan, anda juga bisa menggunakan aplikasi smartphone yang mampu membatasi pemakaian konten-konten negatif bagi anak seperti : Kakatu, Norton Family Parental Control dan lain-lain. 
  • Usahakan untuk mendorong anak melakukan aktivitas motorik seperti bermain boneka, membaca, bermain bola, olah raga pagi, dan aktivitas lain yang membutuhkan gerak tubuh secara aktif. Hal tersebut baik bagi daya tahan tubuh anak serta menumbuhkan rasa peka terhadap lingkungan di sekelilingnya sejak dini . 
Dari beberapa cara di atas, hal yang tak kalah penting ialah memahami karakteristik dari generasi zaman sekarang yakni milenial dan generasi z secara umum, diantaranya adalah :

Karakteristik Generasi Milenial (1977-1995) : 

1. Memiliki sikap percaya diri
2. Memiliki orientasi pada kesuksesan
3. Lebih toleran
4. Kompetitif
5. Haus akan perhatian

Karakteristik Generasi Z (1996-2010) :

1. Menghargai keberagaman
2. Menjadi agen perubahan
3. Memiliki orientasi pada target
4. Senang berbagi

Secara garis besar perkembangan di era digital tidak perlu dikhawatirkan berlebihan, namun harus disikapi dengan cara yang positif dengan memanfaatkannya secara optimal untuk menunjang perkembangan anak. Semoga ulasan di atas bisa membantu Anda dalam mendidik anak zaman sekarang/now Di Era Digital.
Sumber https://www.websitependidikan.com/

Friday, February 9, 2018

Kesalahan Sosial Tentang Pendidikan Anak Usia Dini yang Wajib Anda Ketahui

Kesalahan Sosial Tentang Pendidikan Anak Usia Dini _Pendidikan usia dini sangatlah penting dilakukan sejak awal. Karena pendidikan usia dini, akan menjadi pondasi dan modal awal dalam pembentukan karakter, tingkah laku, dan moral di masa depan. Namun, pada praktiknya masih seringkali terjadi kesalahan dalam menerapkan pendidikan usia dini ini, sehingga bisa berdampak pada kepribadian anak saat tumbuh kembangnya kelak.
Jika pendidikan dilaksanakan dengan salah, pastinya pendidikan bukannya membuat anak menjadi lebih baik, namun justru membuat pengaruh negatif dalam dirinya. Nah, sebagai orangtua yang bijak hendaknya Anda tahu apa saja kesalahan sosial yang seringkali terjadi saat menerapkan pendidikan usia dini ini, agar jangan sampai anak Anda mendapat perlakuan yang sama.

Berbagai Kesalahan Sosial Saat Menerapkan Pendidikan Usia Dini pada Anak
1. Menitipkan anak kepada orang lain sejak dini
Kenyataan yang terjadi banyak anak yang dititipkan kepada orang lain atau kepada baby sister oleh orang tuanya. Kesibukan bekerja membuat para orang tua memilih mempercayakan orang lain untuk merawat anaknya. Padahal hal tersebut bukanlah solusi yang baik.

Merasa sangat prihatin, ketika melihat anak yang tidak diasuh orang tuanya sendiri sejak kecil. Padahal anak usia dini justru membutuhkan kedekatan dengan orangtua kandungnya, dalam rangka pembentukan karakter dan kepribadian yang positif. Anak yang sedari kecil dirawat secara intens oleh orangtuanya sendiri akan memiliki karakter positif yang lebih kuat daripada mereka yang dititipkan.

Anak-anak yang dititipkan cenderung membangkang orang tuanya atau bahkan lebih parahnya lagi terlibat dalam pergaulan bebas. Oleh sebab itu, pendidikan usia dini sangat diperlukan peran serta dari orang tua.

2. Sering membentak anak sejak dini
Kesalahan sosial tentang pendidikan usia dini berikutnya ialah kebiasaan membentak anak. Seringkali kita lihat beberapa orang tua yang memarahi anaknya, membentakknya ketika mereka melakukan kesalahan.

Cara tersebut sebenarnya tidak dianjurkan, terlebih lagi untuk anak kecil. Apabila anak melakukan kesalahan, nasihatilah dengan ucapan yang positif, tanpa harus membentak atau menggunakan kekerasan fisik dan ucapan.

Menasihati anak dengan kata-kata positif dan penuh kasih sayang, justru akan memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Berbeda jika orang tua memarahi anak dengan kekerasan, justru akan membuat gangguan mentalnya karena merasa takut, atau bahkan membuat anak semakin membangkang.

3. Memberikan panggilan/julukan buruk kepada anak
Pastinya Anda setuju kan jika nama yang diberikan kepada sang anak adalah doa atau harapan dari orangtuanya. Maka dari itu, semua orang tua pasti akan memberikan nama yang baik untuk anaknya, sebagai harapan agar anaknya mendapatkan kebaikan.

Namun, tidak jarang orang tua yang memanggil anaknya dengan sebutan-sebutan negatif, entah karena sedang kesal atau alasan lain. Dan apapun itu alasannya, memanggil anak dengan sebutan yang negatif merupakan contoh kesalahan sosial dalam pendidikan usia dini yang bisa berdampak fatal.

Sebagai contoh seorang anak yang kurang cekatan, dipanggil “lemot”. Kemudian, anak yang tidak mendengar ketika dipanggil, lalu orang tua memanggilnya “tuli”.

Panggilan yang negatif, akan berpengaruh juga terhadap perkembangan pikirannya. Oleh sebab itu, apapun kodisinya tetap gunakan panggilan-panggilan sesuai namanya atau dengan nama panggilan yang positif.

4. Memberikan perlakuan yang tidak adil
Ketika sebuah keluarga memiliki anak lebih dari satu, maka tetaplah adil dalam memperlakukan dan memberikan kasih sayang kepada anak. Kesalahan pendidikan usia dini yang kerapkali terjadi adalah orang tua yang lebih sayang dan perhatian kepada salah satu anaknya, sementara anak yang lain kurang diperhatikan.

5. Memberikan doa yang tidak baik
Doa yang tidak baik ini kerapkali diucapkan sebagian orang tua ketika anaknya berbuat salah atau membangkang orang tua. Mereka sering menyumpahi dengan harapan yang tidak baik kepada anaknya, jika orang tua merasa sakit hati atas perlakuan anaknya.

Senakal apapun anak, jangan pernah mendoakan yang buruk, namun tetap doakan yang baik-baik, semoga anak menyesali perbuatan buruknya dan kembali melakukan perbuatan positif.

6. Terlalu banyak larangan
Banyak kita lihat, beberapa orang tua kerap kali melarang anaknya ketika mereka sedang melakukan sesuatu. Sebagai contoh, ketika anak sedang bermain, kemudian orang tua melarangnya “jangan bermain”.

Ketika anak sedang lari-larian, orang tua berkata “jangan berlari”, dan lain sebagainya.
Semakin banyak larangan yang ditetapkan orang tua, akan memberikan dampak yang buruk pada perkembangan otaknya, khususnya otak kanan.

Ketika anak dilarang untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk mengekspresikan diri, maka perkembangan otak kanan yang memicu kreativitas juga akan terganggu.

Itulah salah satu hal yang menyebabkan beberapa anak menjadi malu untuk mengekspresikan diri saat dewasa, karena ketika kecil orang tua melakukan kesalahan dalam pendidikan usia dini dengan menetapkan banyak larangan.

Baca juga Manfaat Bermain bagi Anak Usia Dini

Nah, beberapa kesalahan tentang pendidikan usia dini yang diulas di atas sangat berdampak pada perkembangan sosial dan emosional anak. Untuk itu sebagai orang tua, hendaknya jangan melakukan hal-hal di atas, apapun kondisinya.
Sumber https://www.websitependidikan.com/

Friday, January 5, 2018

8 Cara Mudah Menasehati Anak agar Nurut

Cara Mudah Menasihati Anak agar Nurut_Apakah Anda pernah mengalami ketika Anak Anda dinasehati malah si buah hati kurang bisa menerima dan memahami nasehat dari Anda?, bagaimana cara mendidik anak agar menjadi penurut?, nah pada kesempatan kali ini, saya akan berbagai cara terbaik untuk menasehati anak-anak agar menjadi pribadi yang penurut.

Menghadapi anak yang bandel tidak boleh menggunakan amarah ataupun pukualan, jangan sampai Anak mendapat perlakuan keras baik yang menyakiti hatinya maupun fisiknya. Adapun beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menasehati anak agar nurut antara lain seperti di bawah ini.
Apakah Anda pernah mengalami ketika Anak Anda dinasehati malah si buah hati kurang bisa me 8 Cara Mudah Menasehati Anak agar Nurut
Cara Mendidik Anak agar Nurut

Tips jitu menasehati anak agar nurut sebagai berikut:
1. Memanggil Nama
Mempunyai buah hati dengan karakter yang bandel mungkin akan membuat orangtua mudah terpancing emosi. Namun, hal tersebut tidaklah tepat jika Anda lakukan.

Ketika hendak memerintah sesuatu pada anak, sebaiknya Anda awali dengan memanggil namanya. Sikap tersebut akan membuat anak-anak merasa lebih dihargai. Utamakan melakukan hal tersebut ketika mereka sedang asik bermain.

Jika mereka merespon, baru Anda bisa mengatakan apa maksud tujuan memanggil mereka. Tidak perlu berteriak-teriak untuk memerintahnya karena anak justru tidak akan mau memperhatikan Anda.

2. Berbicara dengan Sopan
Membentuk pribadi yang baik pada seorang anak tentu juga harus diawali oleh sikap baik dari para orangtua. Apabila Anda hendak menasehati anak, sebaiknya menggunakan kalimat yang sopan.

Kata-kata paling mudah adalah menggunakan “Minta tolong...” setiap kali Anda meminta bantuan sesuatu pada anak-anak. Kebiasan positif ini sebaiknya Anda mulai sedini mungkin, untuk membuat anak-anak menjadi lebih mudah mendengarkan nasehat orangtua.

Selain itu, sikap orangtua yang kurang baik, akan mudah ditiru oleh anak-anak karena daya ingatnya yang masih tajam.

3. Menjadi Pendengar yang Baik
Menghadapi sikap anak yang tidak mau menurut sebaiknya tidak dengan menceramahinya terus menerus. Jadilah seorang pendengar yang baik untuk memahami apa yang mereka mau.

Jika emosi dibalas dengan emosi, maka permasalahan tidak akan cepat selesai dan Anda semakin susah untuk mengajak anak-anak menjadi pribadi yang penurut. Setelah mendengarkan, barulah Anda bisa menanggapi apa yang mereka katakan.

4. Ulangi Arahan yang Baik
Membuat anak menjadi lebih penurut tentu tidak dapat Anda dapatkan dengan cara yang instan. Semua membuuhkan proses terutama jika anak-anak sudah terbiasa memiliki sikap yang membagkang sejak kecil.

Oleh sebab itu, cara terbaik untuk menasehatinya adalah dengan mengulangi segala perintah dan arahan yang baik padanya. Jika mereka lupa dengan perjanjian yang telah dibuat, ingatkanlah hingga mereka bisa menjadi lebih menurut.

5. Hindari Kata “Jangan”
Menggunakan kata tersebut justru membuat anak-anak menjadi susah menuruti kata-kata dari orangtuanya. Anda bisa mengubahnya menggunakan kalimat perintah yang halus seperti, “bangun yang pagi ya supaya tidak telat ke sekolah".

6. Gunakan Kalimat Sederhana
Anak-anak yang tidak mau menurut cenderung susah untuk diajak mendengarkan nasehat yang Anda ucapkan. Oleh sebab itu, untuk membuatnya lebih memahami apa yang Anda mau, sebaiknya gunakan kalimat yang sederhana.

Memberikan nasihat yang panjang dan bertele-tela hanya akan dianggap angin lalu oleh mereka dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengulangi kesalahannya kembali.

7. Bersikap Tegas
Jika sikap anak Anda dirasa sudah melewati batas-batas yang sulit untuk ditoleransi, sebaiknya Anda mulai bersikap tegas. Sikap tersebut bukan berarti dilakukan dengan kekerasan atau memarahinya terus menerus.

Anda bisa memberikannya nasihat yang bersifat motivasi sebagai salah satu cara untuk membuatnya lebih memahami antara sikap yang baik dan buruk.

8. Tatapan Mata dan Sentuhan
Adanya kontak fisik dan tatapan mata terbukti menjadi salah satu siasat untuk menjalin ikatan batin. Jika tidak mau menurut, dekatilah mereka dan sentuh pundaknya. Usahakan posisi mata Anda sejajar dengan mereka. Posisi tersebut akan membuat anak-anak merasa lebih dihargai dan diperhatikan.

Demikian cara mudah menasehati anak agar nurut yang dapat kami sampaikan. Semoga menjadi solusi yang bermanfaat bagi Anda.
Sumber https://www.websitependidikan.com/

Saturday, October 7, 2017

Cara Mendidik Anak agar Disiplin Sejak Dini

Bagaimana Cara Mendidik Anak agar Disiplin Sejak Dini?_Mengajarkan disiplin kepada anak akan lebih baik jika dimulai sejak dini. Hal ini bisa membantu untuk mengajarkan mereka apa yang benar dan apa yang salah. Ini juga mengajarkan mereka untuk menuruti aturan yang ditetapkan dan menjadikan mereka lebih mandiri serta tidak terlalu bergantung dengan Anda. Anda sebagai orang tua juga dimudahkan karena bisa melakukan aktivitas yang lain tanpa khawatir anak Anda mengalami masalah karena tahu bahwa ia bisa melakukan hal yang dia inginkan secara mandiri. Disini Anda perlu mengetahui kebiasaan anak sesuai dengan masa perkembangannya kemudian mengatasi tantangan yang ada pada fase itu. Nah berikut ini adalah beberapa cara untuk mendidik anak agar disiplin sejak dini.
Bagaimana Cara Mendidik Anak agar Disiplin Sejak Dini Cara Mendidik Anak agar Disiplin Sejak Dini

Cara Mendidik Anak agar Disiplin Sejak Dini:

1. Sejak lahir hingga usia 7 bulan
Pada usia 12 bulan pertama biasanya orang tua menyerahkan semuanya pada anak dalam menjalani rutinitasnya (makan, tidur, dan buang air besar). Sebenarnya pada masa ini, Anda sebagai orang tua bisa mengaturnya sehingga buah hati Anda terbiasanya melakukannya sesuai jadwal tanpa banyak kesulitan.

Kebiasaan disiplin juga bisa terapkan tentang kapan Anda bisa menggendong anak dan bagaimana cara dia tertidur. Di sini Anda harus bisa membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan.

Misalnya: Menggendong bayi sampai tertidur mungkin diinginkan oleh bayi tetapi itu bukan yang mereka butuhkan.

2. Usia 7 – 12 bulan
Pada masa ini bayi sudah mulai banyak bergerak. Ia mulai senang menjelajah isi rumah. Oleh karena itu, pastikanlah area di dalam rumah adalah area yang aman. Ajarkan pada dia mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Hindari untuk mengatakan tidak atau jangan. Ketika anak mulai melakukan sesuatu yang berbahaya, jauhkan dia dan katakan mengapa ia tidak boleh melakukannya. Ajak ia ke aktivitas yang aman baginya.

Pada usia ini, biasanya anak tidak mau berpisah dengan Anda, ia mulai menangis bahkan menjerit ketika merasa Anda tidak sedang bersamanya. Pada saat itu janganlah tergopoh dan datang kepadanya. Katakan bahwa Anda berada dimana dan mintalah dia untuk tetap bermain.

3. Usia 12 – 18 bulan
Pada usia ini, anak biasanya suka berteriak dan merengek saat berada di luar. Saat itu sedang terjadi, jangan langsung bawa anak ke rumah. Hal itu tidak akan menimbulkan efek jera. Ia bisa melakukan itu saat pergi ke luar lagi suatu saat. Pada saat itu jangan pula membalas dengan teriakan, karena nanti dia akan menirunya dengan meneriaki Anda.

Hal yang lebih baik untuk dilakukan adalah dengan mengingatkan dia sebelum pergi ke tempat umum bahwa nanti ia harus berbicara dengan suara yang pelan. Anda juga bisa membawa mainan dan buku untuk mengalihkan perhatiannya nanti. Ini mungkin akan susah pada awalnya, tapi teruslah ajari dia.

Dengan terus mengajari dia hal tersebut akan memberi pelajaran padanya untuk mengendalikan emosi. Ia juga akan belajar bahwa semua keinginannya tidak bisa selalu dipenuhi. Pujilah dia jika dia bisa berlaku baik atau saat dua sudah bisa menahan emosinya  di luar.

4. Usia 18 – 24 bulan

Semakin bertambahnya usia, biasanya anak semakin ingin menunjukkan menunjukkan rasa kemandiriannya. Namun pada saat itu anak masih belum bisa mengutarakan apa yang dia inginkan secara jelas. Ia cenderung lebih mudah frustasi dan mengamuk. Pada sebagian anak di usia ini memiliki kebiasaan memukul dan menggigit. Jika Anda melihat kondisi demikian, maka segera jauhkan anak Anda dari kondisi tersebut. Katakan bahwa ia tidak bisa melakukan hal tersebut karena itu bisa membuatnya sakit.

Pada usia balita, biasanya mereka juga suka memberontak terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Jika hal ini terjadi, jangan paksa mereka melakukan apa yang Anda mau. Hal itu akan percuma dan justru membuat mereka semakin ingin dituruti. Oleh karena itu, cobalah membujuknya dengan melakukan beberapa kegiatan yang menyenangkan.

Disini, jika Anda mengerti apa yang di sukai anak dan apa yang tidak disukai mereka akan lebih mudah untuk mengalihkan perhatian mereka. Dengan begitu suasana hati anak akan berubah menjadi lebih menyenangkan dan ia akan mulai menuruti aturan.

Nah itu tadi adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mendisiplinkan anak sejak dini. Hadapi tantangan yang ada sesuai dengan fase perkembangan mereka dengan kreativitas dan naluriah Anda sebagai orang tua. Bedakan apa yang menjadi keinginan anak dan apa yang menjadi kebutuhannya. Semoga menjadi orang tua yang sukses dan berhasil melewati rintangan yang ada. Selamat bekerja keras demi masa depan anak Anda.
Sumber https://www.websitependidikan.com/

Saturday, September 9, 2017

Cara Mengatasi Anak yang Pemalu dan Penakut

Cara Mengatasi Anak yang Pemalu dan Penakut_Anak-anak memang memiliki karakter sifat yang beragam, mulai dari pemberani, suka berbicara, pemalu, penakut, dan sebagainya. Salah satunya yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari orangtua adalah sifat anak yang penakut serta pemalu.

Anak-anak dengan sifat penakut dan pemalu akan cenderung melakukan aktivitas sendiri, karena merasa kurang percaya diri atau minder ketika beraktivitas di depan umum atau bersama teman-temannya. Tentu orangtua harus menyadari karakter sifat anak semacam ini dan berusaha membantunya keluar dari zona tersebut. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua untuk menghilangkan rasa takut dan malu yang berlebihan dalam diri anak.
Cara Mengatasi Anak yang Pemalu dan Penakut Cara Mengatasi Anak yang Pemalu dan Penakut
Cara Mengatasi Anak Pemalu dan Penakut

1. Menenangkan Anak
Dalam menghadapi sikap anak-anak yang penakut serta pemalu, sebaiknya Anda tidak membalasnya dengan sikap takut dan malu juga. Hal tersebut justru akan membuat anak semakin sulit untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut.

Apabila anak-anak selalu malu dan takut akan suatu hal, sebagai orangtua atau pembimbing yang benar, sebaiknya Anda berikan respon-respon yang positif yang bersifat menenangkan. Dengan kebiasaan yang rutin, sifat malu dan takut pada anak dapat memudar.

2. Ajak Beraktivitas dengan Orang Lain
Anak-anak yang memiliki rasa malu dan takut berlebihan dapat diberikan terapi ringan dengan cara mengajaknya beraktivitas bersama orang lain, baik dewasa maupun usia sebaya.

Semakin sering anak-anak berinteraksi di hadapan umum, semakin mudah membuat mereka menghilangkan rasa malu dan takut. Membatasi waktu anak-anak untuk bermain di luar rumah merupakan tindakan yang kurang tepat.

Jadi, anak-anak pemalu dan penakut dapat diberikan sedikit kebebasan untuk bermain, tentunya di bawah pengawasan Anda.

3. Jangan Membicarakan Keburukannya
Membicarakan keburukan anak kepada orang lain, baik yang berhubungan dengan rasa takut dan malunya maupun tidak, tentu akan membuat mereka merasa marah bahkan semakin minder. Terutama jika Anda membicarakan hal tersebut secara langsung di hadapan anak-anak.

Membahas keburukannya dalam hal semacam mengolok-oloknya hanya akan memperburuk kondisinya dan tindakan tersebut sangat tidak disarankan. Sebab, sejak usia balita, anak-anak sudah mampu memahami topik pembicaraan yang bernada kurang bagus.

4. Berilah Pujian
Karakter anak yang pemalu dan penakut seringkali disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri yang dimilikinya. Untuk membangkitkan hal tersebut, Anda bisa senantiasa memberikan dia pujian, baik tindakan kecil maupun besar.

Berikan pujian ketika dia mau menyapa teman-temannya, ketika mereka mau memberikan sedikit bantuan pada teman sebaya, dan sikap-sikap positif lainnya. Jangan pernah sungkan mengatakan pujian-pujian tersebut pada anak-anak yang pemalu dan penakut.

Dengan rutin memberikan perlakuan tersebut, Anda secara tidak langsung dapat memberikan dorongan yang baik pada anak sehingga mereka lebih percaya diri dengan tidakan-tindakan yang dilakukannya.

5. Jangan Malu dengan Sikapnya
Jika Anda malu dengan sikapnya serta tidak memberikan dukungan, justru hal tersebut akan membuatnya semakin minder. Hindari meminta maaf pada orang lain atas sikap yang dilakukan anak Anda.

Daripada harus minder menghadapi sifat anak yang pemalu dan penakut, sebaiknya Anda mencari sisi positifnya. Misalnya di balik sifatnya yang pemalu, mereka mempunyai kebiasaan baik seperti rajin membaca buku, rajin belajar, suka membantu Anda di dapur, dan sebagainya.

6. Sering Memeluk Anak
Cara membangkitkan rasa percaya diri pada anak pemalu dan penakut berikutnya adalah dengan sering-sering memberikan pelukan. Hal tersebut akan menjalin hubungan yang baik pada anak serta membuatnya merasa lebih tenang.

Baca juga:
Lakukan tindakan ini ketika mereka sedang menghadapi situasi yang membuatnya kurang nyaman. Menghujani mereka dengan pelukan kasih sayang merupakan tindakan paling ampuh untuk menghilangkan ketakutan dan rasa malu dalam dirinya.
Sumber https://www.websitependidikan.com/